"Kebaikan itu tak selamanya lembut dan manis, terkadang ia kasar dan pahit untuk ditelan"

Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Kebaikan itu harus sesuai tempat dan porsinya


Setiap manusia ingin dihargai, diakui, dan disayangi. Setiap manusia yang melakukan kesalahan ingin dimaafkan. Umumnya manusia pun memaafkan, terlepas maaf itu ikhlas atau terpaksa. Bahkan ketika kesalahan itu mereka ulangi, mereka pun tetap ingin dimaafkan, dimaklumi dan dilupakan.

Namun, apa yang terjadi jika hal itu, terus dan terus berulang?. Apakah kebaikan yang diberikan oleh hati-hati yang tulus justru menjadi pupuk penyubur kesalahan dan kejahatan. Jika memang yang terjadi sekarang ini demikiaan. Maka aku akan menjadi orang yang sangat tega untuk tidak memaafkan dan memaklumi kesalahan mereka. Aku tidak peduli jika mereka mengatakan aku orang yang pemarah.

Lebih baik mana, ketika aku memarahi mereka atas kesalahan yang mereka lakukan. Kemudian mereka sadar bahwa mereka salah, lalu kemudian mereka memperbaiki kesalahan tersebut. Atau aku biarkan kesalahan mereka, dengan terpaksa memaafkan, lalu mereka menganggap bahwa kesalahan yang mereka lakukan adalah sesuatu yang wajar. Kesalahan itu dianggap sesuatu yang manusiawi. Kemudian dilain waktu, kita harus kecewa dengan kesalahan yang berualang.

"Tidak semua kebaikan itu lembut dan nyaman diterima, terkadang ia sangat kasar dan pahit untuk ditelan"

KAPAN AKAN SAMPAI

Roses Bloom...

"Bagaimana pendapat kalian tentang suatu kaum yang bermaksud untuk bepergian, tetapi mereka melakukan perjalanan pada siang hari tanpa ada arah tujuan dan pada malam hari mereka tidur, lalu kapan mereka akan sampai ke tempat tujuan?"
Ungkapan itu merupakan kata-kata nasehat yang pernah dikatakan oleh Shilah bin Asyam, seorang ulama generasi tabi'in yang mulia kepada segerombolan pemuda yang sedang nongkrong-nongkrong di pinggir jalan. Kalimat yang begitu halus, namun mampu membuat salah seorang pemuda itu menangis. Pemuda tersebut tersadar dengan apa yang selama ini telah ia lakukan. Dia tersadar akan semua waktu hidupnya yang telah ia sia-siakan. 
Apa yang terucap dari hati, maka hati pula yang mampu memahami. Tidak peduli sepandai dan seindah apapun kita merangkai kata, jika itu tidak tulus dari hati. Maka orang yang mendengarnya pun hanya akan melupakan ibarat masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tidak ada yang membekas sedikit pun di dalam hati. Sungguh penting perkara hati ini. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
Mari kita selalu berusaha dan memohon pertolongan kepada Allah untuk selalu menjaga hati kita dalam kebaikan.

Kisah Umar Ketika terjadi Gempa Bumi

Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, "Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (berbuatlah supaya Allah ridha kepada kalian)!"
Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi"
Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.
Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.
****
Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, "Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, 'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''
Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."
"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15). Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."
"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, inni kuntu minnadzolimiin sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."
Jika saja kedua Umar ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan "teguran" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un .. Segala sesuatu adalah kembali kepada Allah sang Pemilik.
Dan dalam firman-Nya yang lain Allah menegaskan bahwa apapun yang terjadi di alam semesta ini adalah sesuatu yang telah ditakdirkan oleh-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Nya sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadid : 22)
↘ Allah Ta’ala juga berfirman,
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin ALLAH.” (QS. At Taghobun: 11)
أَوَلاَ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لاَ يَتُوبُونَ وَلاَ هُمْ يَذَّكَّرُونَ
“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran.”
(Qs. At Taubah : 126)
Saudaraku fillah,
Sebelum masa tangguh itu berakhir ... Sebelum Allah menegur kita lebih keras, inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya..
Labbaika Ya Allah,.. kami datang kembali kepada-Mu..
Wallahu a'lam bishawab,

Sumber: https://www.facebook.com/Paguyuban.Siluman.Organization/posts/195636277240196

Hakikat Waktu Hidup di Dunia

"SEBENARNYA, KITA HIDUP DI DUNIA HANYA 2 MENIT 1 DETIK"
"Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekadar lewat "(HR Bukhari)

Dari 7 besaran ISO (International Standard Organization) yang dirumuskan yakni panjang, temperatur, massa, waktu, arus listrik, jumlah zat dan intensitas cahaya, hanya satu besaran yang susah untuk dipahami, waktu. Hidup manusia di dunia terfungsikan oleh waktu. Waktulah yang membatasi antara satu kehidupan dengan kehidupan yang lain.
Waktu menurut para ahli adalah besaran untuk mengukur tingkat perubahan yang terjadi pada benda atau zat. Kita sendiri menjadi bukti dari definisi ini, masih ingatkah saat kita kecil ditimang oleh bunda kita atau saat kuda-kudaan dengan ayah kita, namun lihat diri kita sekarang, sudah berubah dari saat kita digendong dan main kuda-kudaan bukan ? itu semua karena waktu.
Pada zaman dulu, manusia menganggap waktu itu absolute, kecuali dalam Islam. Waktu dianggap sama saja tidak peduli pada acuannya. Baru pada abad 20, ilmuwan termasyhur abad 20, Albert Einstein mengeluarkan postulat yang menyatakan bahwa waktu bersifat relatif tergantung pada acuannya. Einstein memisalkan, jika seorang laki-laki mengobrol dengannya yang sudah tua, beruban dan keriput, mengobrol satu jam seperti satu abad. Sedangkan jika mengobrol dengan yang masih muda, cantik dan anggun mengobrol lima detik bisa terasa lima jam. Kurang lebih seperti itulah relativitas, kata Einstein.
Sekarang mari kita coba untuk membandingkan waktu dengan kerangka acuan waktu di dunia yang berdasarkan atas rotasi dan revolusi bumi atau benda langit lainnya dibandingkan dengan kerangka acuan akhirat berdasarkan berita dari Al-Qur'an dan Al hadits.
Firman ALLAH dalam Al-Qur'anul Karim:
1. Surat al-Mu'minuun [23]: 112-114
 "ALLAH bertanya :" Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi ? "Mereka menjawab :" Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung. ALLAH berfirman : "Kamu tidak tinggal ( di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. "
Dalam ayat ini, aroma relativitas waktu yang dikemukakan oleh Einstein sangat terlihat. Bayangkan, manusia yang hidupnya kurang lebih 70 tahun, ketika ditanya ALLAH menjawab hanya hidup satu hari atau setengah hari. Kemudian ditimpali oleh ALLAH bahwa hidupnya hanya sebentar saja, hanya sebentar.
2. Surat An-Naazi'aat [79]: 46
"Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari."
Dalam ayat ini lebih cepat lagi, hidup kita dirasakan hanya selama waktu sore atau pagi hari. Jika waktu sore di mulai jam 3 dan diakhiri jam 6, berarti kita merasa hidup cuma 3 jam. Dan jika pagi hari dimulai jam 7 dan selesai jam 11 berarti kita merasa hidup hanya 4 jam. Tentu saja lebih sebentar dari ayat sebelumnya.
3. Surat Yunus [10]: 45
"Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) ALLAH mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan ALLAH dan mereka tidak mendapat petunjuk. "
Pada ayat ini, lebih tinggi lagi komparasinya, hidup kita hanya dirasa SESAAT SAAT SIANG HARI saja, ALLAHU AKBAR.
Dan sekarang mari kita coba untuk menghitung perbandingan lama hidup kita menurut apa yang telah disampaikan nabi kita.
Bagaimana kondisi kalian jika ALLAH mengumpulkan kalian di suatu tempat seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian? (HR Hakim dan Thabrani)
Hadits di atas berhubungan dengan kondisi kita nanti di padang mahsyar, kata nabi Muhammad, kita berada di padang mahsyar selama 50ribu tahun yang sama nilainya dengan 50 milenium sama dengan 500 abad sama dengan 6250 windu. Apakah waktu ini sebentar ?
Jika kita korelasikan hadits tersebut dengan ayat di bawah ini.
4. Surat Al-Ma'arij [70]: 4
"Malaikat-malai­kat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun."
Kita akan menemukan suatu angka yang sangat fantastis. Mari coba kita hitung. Manusia zaman ini hidup dengan umur rata-rata 70 tahun, Rasulullah Muhammad meninggal pada usia 63 tahun. Maka, perantauan kita di dunia jika dibandingkan dengan relativitas waktu di padang mahsyar hanya akan terasa 2 MENIT 1 DETIK, nilai tersebut didapat dari perbandingan sederhana yang bisa dihitung oleh siswa SD kelas 4.

Benar, HANYA 2 MENIT 1 DETIK. Maka benarlah pada hari yang dijanjikan itu, manusia-manusia­ yang ingkar terhadap Robb nya akan diliputi penyesalan yang mendalam, penyesalan karena waktunya (singkat) hanya dipakai untuk hal-hal yang sia-sia, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dimanfaatkan untuk bermalas-malasa­n, penyesalan karena waktunya (yang singkat) hanya dimanfaatkan untuk melakukan maksiat dan dosa.
Mereka pun mengandaikan bisa kembali ke dunia, namun sayang, penyesalan tinggal penyesalan. Maka tenggelamlah mereka oleh keringatnya sendiri, karena malu dan takutnya mereka dan semoga kita bukan bagian dari orang-orang yang menyesal tersebut.
Namun saat itu ada juga yang dinaungi awan kasih sayang oleh Robb, kita paham bahwa pada saat itu matahari hanya sejengkal di atas kepala. Merekalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk memperjuangkan agama Robb nya. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat buat diri dan sesama. Orang-orang yang menjadikan waktunya untuk senantiasa beribadah kepada Ilah nya. Mereka pun puas akan apa yang dilakukannya. Tidak sia-sia setiap tetes keringat dan tiap tetes darah yang mereka keluarkan demi kemuliaan agama ini. Tidak sia-sia mereka menahan gejolak mengumbar aurat dan berjuang menahan panas memakai jilbab bagi wanita. Tidak sia-sia mereka menahan setiap sentuhan, pandangan, pendengaran dari yang tak semestinya dilakukan. Benar, tidak akan sia-sia setiap amal kebaikan kita. Itulah hidup kita kawan, hanya sebentar.
 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada ALLAH dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (QS al-Hasyr [59]: 18)
Perhitungan di atas memakai acuan padang mahsyar dan acuan waktu dunia, karena memang acuan padang mahsyar saja yang bisa kita perbandingkan. Sebab, kehidupan dunia ini tak akan bisa kita komparasi dengan surga atau neraka. Setiap yang kafir masuk neraka sedangkan muslim masuk surga. Mereka yang munafik adalah orang-orang yang mengetahui hukum Allah namun kemudian ingkar, mereka yang menerapkan agama secara parsial, mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain dan mereka yang muslim namun ragu akan nilai keislamannya.
Dan agama ini sudah sempurna. Baik dan buruk, halal dan haram sudah ditetapkan dengan jelas. Setiap aturan kehidupan mulai dari pergaulan, ekonomi, pengaturan politik, pendidikan, sosial, hukum, dan ibadah sudah paripurna. Semua kembali kepada kita, maukah memakainya atau kita tetap dengan kondisi sekarang. Kondisi yang jauh dari nilai-nilai Islam. Wallahu a'lam bi ash shawab.
"Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat ?" (HR Muslim)

Sumber: For Ummah Clothing.

MISTERI HILANGNYA MAS TUMOW

Roses Bloom...
“Antara ada dan tiada, dibalik tirai malam”

Masih bersama sunyinya malam, bersama dekapan dinginnya angin, gelap yang berkawan senyap, tiba-tiba aku terjaga dari tidur lelapku. Kulihat saat itu masih pukul 01.00 WIB, waktu yang nikmat untuk memejamkan mata, bersama buaian indah dunia mimpi. Entah apa yang membuatku terbangun sepagi itu, apa karena malam itu aku tidur lebih awal, ataukah memang ada yang sengaja membangunkanku. “Mumpung lagi sempat dan ingat, mengapa ndak sekalian sholat” pikirku bertekad. Kemudian ku mencoba bangkit dan  kuatkan kaki untuk mengambil air wudlu, meski dingin meragukan niatku.

Mahasiswa “ Ikhlas ”

Roses Bloom...


Dari kejauhan terlihat Yono yang sedang berlari tergopoh – gopoh menghampiri si Mahmud.
Yono : “ Bro,, jangan lupa ya, nanti saya diabsenkan, soalnya saya harus nemenin pacar saya ke toko Buku.”
Mahmud : “ Yooon,Yon, Setiap hari kok nitip absen, apa kamu ndak merasa rugi ?” ejek mahmud sambil menggerutu.
Yono : “ Kata pak ustad, kalo beramal itu harus ikhlas, Mud” terang Yono pada si Mahmud.
Mahmud : “ Maksud Loe, Yon?”
Yono : “ Gini Mud, semester berapa sich Loe Mud kok kayaknya kok lola banget ?” ejek Yono.
Mahmud : “ Wah menghina sampeyan Yon, jelek-jelek kayak gini IP saya kemarin 5,01 Yon” jawab Mahmud sambil cengengesan.
Yono : “ Wah sableng sampean Mud, IP kok 5,01 cari utangan dimana Mud?”
Mahmud : “ Itulah perbedaan sampean karo aku Yon cukup jauh to. Wis aku saiki arep menyang kuliah, jadi nitip ndak ?”
Yono : “ Jadi donk, dan inilah Mud perbedaan mahasiswa yang ikhlas dengan yang tidak ikhlas. Kalau aku sich ikhlas Mud, buktinya walaupun jarang masuk, aku masih rajin bayar SPP buat Universitas. Orang kayak aku nih Mud, nggak ngarepin yang namanya pujian, sanjungan, apalagi Ilmu. Pokoknya aku ikhlaslah buat Universitasku tercinta” jawab Yono bangga.
Mahmud  : “ Oh,  gemblung” jawab Mahmud seraya meninggalkan Yono. { MF }



Hidangan Pembuka




Sebuah riwayat yang mengisahkan sufi besar, Ibrahim Ibnu Adham. Ketika tetangganya tengah menggelar sebuah resepsi pernikahan. Sebagai orang yang amat dihormati dan dimuliakan, Ibrahim tentulah menjadi orang pertama yang diundang keacara tersebut. Begitu ia datang memenuhi undangan tetangganya, beliau mendengar seorang tamu undangan membicarakan (menggunjing) seorang lainnya yang berhalangan hadir, ia lalu berkomentar, "Kebiasaan kami adalah makan roti terlebih dahulu baru makan daging. Tetapi sungguh menyedihkan, di sini orang-orang terbiasa mengawali makan daging (bangkai saudaranya yang sudah meninggal alias menggunjing) lalu makan roti," katanya lalu meninggalkan acara resepsi. (MF)




Pelayan Bukan Penguasa



Pada suatu malam ibu bertanya kepada Yono, yang sedang asyik bermain monopoli.
Ibu : “ Kalo sudah besar dik Yono mau jadi apa?
Yono : “ Yono mau jadi rakyat buk” jawab Yono mantap
Ibu : “ Lho.....kenapa kok ingin jadi rakyat?” tanya ibu lembut
Yono : “ Kan rakyat orang paling kaya buk,”
Ibu : “ Emang kayanya seperti apa ?”
Yono : “ Ehmmm...sekarang Yono tanya sama ibu, siapa yang menggaji pak Polisi, ibu Guru, bapak Lurah, bapak Gubernur, bapak Presiden ?”
Ibu : “ Pemerintah” jawab ibu singkat
Yono : “ Pemerintah yang menggaji?”
Ibu : “ Ehmmmm....rakyat”
Yono : “ nah,,,makanya Yono ingin jadi rakyat, biar bisa menggaji pak Polisi, ibu Guru,pak Lurah, pak Gubernur,pak Presiden”

Ibu : “@###*&^^^”...(sudah seharusnya orang yang di gaji melayani orang yang memberinya gaji) batin ibu.

Alam untuk anak cucu kita





Hutan ditebang kering kerontang
Hutan ditebang banjir datang
Hutan ditebang penyakit meradang
Hutan-hutanku hilang anak negeri bernasib malang
Hutan-hutanku hilang bangsa ini tenggelam

Kutipan lagu diatas diciptakan oleh H.MS Kaben, SE. Msi. Yang saat itu sedang menjabat sebagai menteri kehutanan. Lagu ini mengingatkan kita bahwa apabila hutan itu dirusak maka bencana pun akan segera datang silih berganti. Kita harus menyadari bahwa Hutan merupakan penyangga kehidupan, penghasil kayu,penyimpan cadangan air,sumber pangan,penghasil oksigen, tempat rekreasi, dan tempat hidup berbagai macam keanekaragaman hayati.
Dahulu kawasan hutan Indonesia mencapai 162 juta hektar . Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar ). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar). Indonesia juga merupakan pemilik hutan hujan tropis terluas ke-3 di dunia, setelah Brasil dan Kongo.
Kondisi diatas sayangnya hanyalah gambaran hutan tempo doeloe, lantas bagaimana dengan kondisi hutan Indonesia yang sekarang? Di Zaman yang modern ini, dimana arus informasi sangat mudah kita dapatkan. Baik itu melalui siaran televisi, surat kabar, maupun internet. Banyak sekali  berita yang menyiarkan tentang kerusakan hutan, baik itu berupa kebakaran hutan ataupun karena penebangan pohon liar. Forest Watch Indonesia pun mencatat kerusakan hutan di Indonesia dari tahun ketahun terus meningkat, sampai saat ini saja sudah mencapai 2 juta hektar per tahun. Sebanyak 72% dari hutan asli Indonesia telah musnah. Akibatnya, luas hutan Indonesia selama 50 tahun terakhir telah berkurang dari 162 juta hektar menjadi 98 juta hektar.
Sudah barang tentu jika demikian kondisinya, hukum kausalitas sebab-akibatpun berlaku.  Dampaknya sudah dapat kita rasakan sekarang ini, seperti contoh bencana banjir yang terjadi selama bulan maret 2013 hingga tulisan ini terbit, sudah tercatat sebanyak 15 bencana banjir dan tanah longsor  melanda tanah air. Dan masih segar diingatan kita, bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya pada pertengahan Januari 2013 yang menyebabkan Jakarta dinyatakan dalam keadaan darurat.  Kemudian tidak lupa Kekeringan,rusaknya keanekaragaman hayati, dan berkurangnya suplai oksigen, Turut berpartisipasi dengan memberikan sanksinya kepada manusia.
Selagi masih ada waktu mari kita jaga lingkungan hidup kita. Menanam pohon-pohon yang meskipun kita tidak dapat merasakan buahnya, namun kita mewariskannya kepada anak cucu kita.



Nasehat seorang anak kecil





Dakwah itu adalah nasehat, agama itu adalah nasehat, nasehat bagi manusia untuk dapat berubah dari yang kurang baik menjadi yang lebih baik. Namun sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan yang mengajarkan ilmu dakwah, ilmu komunikasi,dll. Sehingga tidak sedikit orang yang mampu berdakwah “ menasehati “ namun hanya sebatas menasehati dengan lisan.  Tanpa ada kesadaran dari diri penasehat untuk memberikan contoh sesuai dengan apa yang ia nasehatkan.
“Menasehati dengan lisan lebih mudah dari pada menasehati dengan perbuatan” kiranya itulah kata yang tepat untuk mengingatkan mereka yang hanya pandai beretorika kata namun bodoh dalam memberika tauladan. Dia pandai menasehati orang lain namun ia tidak bisa menasehati diri sendiri. Dia bisa melihat bakteri di seberang lautan namun gajah yang di pelupuk matanya ia tidak tampak. Parahnya lagi jika orang yang demikian juga keras kepala, tidak mau menerima nasehat orang lain, merasa dirinyalah yang paling benar dan meremehkan orang lain.
Tidak semua orang yang memberikan nasehat itu dapat dijadikan contoh. Banyak sekali orang- orang yang berdakwah, memberikan sebuah nasehat dan wasiat untuk berbuat kebaikan namun apa yang ia lakukan justu berlawanan dengan apa yang ia sampaikan dalam dakwahnya. Hal inilah yang terkadang membuat orang- orang memandang mereka  hanyalah orang- orang yang sok suci . Banyak sekali contoh yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari- hari perihal orang yang memberi nasehat namun orang yang diberi nasehat justru mencemooh dan mangabaikannya.
Sebuah cerita yang semoga dapat kita ambil pelajaran bersama, “ seorang anak kelas 3 SD yang waktu pelajaran di kelas, dijelaskan oleh gurunya tentang wajibnya menjalankan ibadah sholat berjama’ah. Ketika itu ia tertarik, kemudian di menanyakan banyak pertanyaan tentang sholat berjama’ah dan ibu gurunya pun dengan sabar menjawab semua pertannyaannya. Singkat cerita, ketika anak tersebut mengetahui banyak tentang wajibnya sholat berjama’ah dan berbagai keutamaan yang terkandung di dalamnya. Anak itupun bertekad untuk terus melaksanakan sholat berjama’ah.  Sepulang sekolah, yang biasanya dia langsung pergi bermain, hari itu ia tidak pergi bermain melainkan ia gunakan untuk tidur siang ( karena dia berniat untuk dapat bangun sholat subuh berjama’ah). Selesai sholat magrib ia mengaji di kamar dan ketika terdengar kumandang adzan isya ia bergegas mengambil air wudlu dan pergi kemasjid. Kedua orang tuanyapun merasa heran dengan perubahan anaknya tersebut, karena sudah lama sekali keluarga ini meninggalkan perintah agamanya terutama sholat. Selesai makan malam, sang anak minta kepada ibunya agar nanti subuh dibangunkan, ibunya pun dengan nada berat menyanggupi permintaan putra semata wayangnya tersebut. Singkat cerita ketika waktu subuh tiba, ia mengambil air wudhu dan keluar pintu rumah. Angin malampun menyambutnya dengan hawa dingin yang menambus kulit karena terkombinasi dengan air wudlu. Gelapnya malampun menjadikannya merasa takut untuk berjalan sendiri menuju masjid. Terdiam didepan pintu dan menunggu ada seseorang yang juga hendak menuju masjid,merupakan pemikiran cerdas anak ini. Kemudian dari kejauhan terlihat seorang kakek- kakek yang juga hendak menuju  ke masjid, lalu anak itupun berjalan dibelakang kakek tersebut. Begitu pula pada malam- malam selanjutnya. Hingga pada suatu subuh sang kakek yang ditunggu- tunggu tidak lewat, kemudian ia pun memberanikan diri untuk pergi ke masjid sendiri. Keesokan harinya ia mendapat kabar bahwa sang kakek yang setiap subuh ia ikuti pergi ke Masjid telah meninggal dunia. Sang anak pun menangis sangat lama hingga kedua orang tuanya menjadi bingung. Ayahnya pun mencoba bertanya mengapa ia menangis, sang anak menjelaskan bahwa ia menangisi seorang kakek yang meninggal di dekat rumahnya. Sang ayah yang pun berkata, “ kakek itu bukalah siapa- siapa kita kenapa harus kamu tangisi ?, Sang anak dengan nada marah menjawab pertanyaan ayahnya itu,” kenapa tidak ayah saja yang meninggal. Ayah tidak pernah mengajari ataupun mengajakku untuk beribadah kepada Allah SWT, tetapi kakek itulah yang selalu aku ikuti setiap aku hendak pergi kemasjid untuk sholat subuh”. Sepontan jawaban dari anak tersebut menggetarkah hati kedua orang tuanya yang sekian lama telah lalai dari mengingat Allah. Lantas mereka berduapun bertekat untuk bertaubat dan membenahi kehidupan keluarga mereka yang selama ini serasa hampa dengan kebahagian ruhani. Meskipun kebutuhan dunianya terpenuhi bahkan lebih- lebih, namun jauhnya hati dengan penciptanya menjadikan pemiliknya hidup dalam kehampaan dan kesunyian.”
Terkadang tauladan itu tidaklah harus dari seorang yang lebih tua dari kita,lebih pandai dari pada kita, karena tauladan itu senatiasa diajarkan oleh Allah melalui hamba- hambanya yang bersih hatinya. Terserah kita jujur mensikapinya ataukah justru menjadikan ego kita sebagai tembok tebal yang menolak hidayah tersebut.

Hikmah kesabaran



Minggu siang di sebuah mall, seorang anak laki-laki (sekitar 8 tahun) berjalan menuju sebuah gerai tempat penjual es krim. Karena belum tinggi, ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar bingar mall  yang serba wangi dan indah.
“Mbak, Sundae Cream harganya berapa?” si anak bertanya. “lima ribu rupiah” pramusaji menjawab.
Anak itu kemudian merogoh recehan dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih “ berduit” antri di belakang anak itu.
“Kalau plain cream berapa?”
Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “tiga ribu lima ratus”.
Lagi-lagi si anak menghitung recehnya, “kalau begitu, saya mau sepiring plain cream saja mbak,” kata anak sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.
Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es cream bekas dipakai anak tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam lima ratusan serta lima keping recehan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat di kerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya anak tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan upah bagi si pramusaji.
Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi, setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di mana pun, kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat. Serta ayo kita belajar untuk sabar menghadapi sebuah kondisi.
Dimensi kesabaran ada 3, yaitu:
1.     Sabar dalam menjalankan perintah.
2.    Sabar  dalam menjauhi larangan.
3.    Sabar dalam menghadapi ujian.
Macam-macam ujian itu ada 2 yaitu dalam bentuk kesenangan dan cobaan dalam bentuk kesukaran. Karena kalau tidak hati-hati nikmat bisa menimbulkan kesombongan. Dan dalam menghadapi ujian dalam kesukaran kita harus sabar dan semangat dalam menghadapinya, InsyaAllah dibalik kesukaran itu akan ada hikmah atau sesuatu yang indah yang Allah SWT rencanakan. Ayo berhuznudzon…. “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Asy-Syarh: 6)

Persada, 16 Maret 2013.

Peta titik lemah jiwa




Setiap manusia memiliki titik lemah yang berbeda-beda. Celah- celah jiwa yang bakal diobservasi oleh setan guna mencari jalan untuk menguasai hatinya.setelah ditemukan, hasil diagnosa akan dijadikan acuan untuk membuat formulasi penyesatan.
Ada yang tidak mempan dengan minuman keras, tapi lemah menghadaapi wanita, tapi ada pula yang sebaliknya. Ada yang kuat menahan godaan wanita, anti minuman keras, tapi lemah dalam menahan marah. Ada pula yang merupakan kombinasi dari dua kelemahan atau bahkan lebih. Sangat bervariasi. Jika diperinci, akan didapatkan list bermeter-meter panjangnya karena setiap manusia memiliki titik kelemahan jiwa yang  berbeda-beda. Namun begitu, celah yang paling lebarlah yang biasanya menjadi fokus syetan untuk menyuntikkan furmulasi penyesatannya.
Titik-titik lemah tersebut dapat dikategorikan menjadi empat kategori didasarkan pada jenis-jenis dosa sebagai output yang dihasilkan.  Hal ini sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh Ibnu Qayim al Jauziyah dalam bukunya al Jawabul Kafi, bahwa dosa akan terklasifikasi menjadi empat tipe ditinjau dari kategori motif dasarnya. Adapun empat klasifikasi tersebut adalah:
1.   Dosa Malikiyah yaitu dosa-dosa yang berawal dari kelemahan jiwa berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya ke-maha-an.  Kecenderungan hati pada perkara- perkara terkait kekuasaan, kesombongan, keinginan dipuja dan diagungkan, penghormatan yang bersifat herarki atas- bawah, keinginan untuk mendominasi, atau menentang.
Kemudian  jika sudah begitu keadaannya, maka output yang barang tentu dihasilkan  adalah sebuah kesyirikaan. Baik syirik dalm menjadikannya sesembahan selain Allah atau menjadikan orang lain sekutu bagi Allah. Ibnu Qayim memang tidak menyebutkan Firaun sebagai contoh, namun sepertinya Firaun memang cocok menjadi salah satu contohnya. Keinginannya untuk disembah, diagungkan membuatnya sesat dengan menuhankan dirinya sendiri. Juga para pemimpin dan pejabat yang lalim,suka berebut kekuasaan, dan ingin agar dirinya atau hukumnya lebih ditaati daripada hukum Allah adalah spesies yang sama dengan Firaun.
2.  Dosa Syaithoniyah, adalah jenis dosa yang berawal dari karakter  buruk jiwa manusia yang mirip dengan setan. Unsur-unsur yang menyusun sama  dengan karakter dasar setan seperti; dengki,dusta,khianat,culas, senang mengajak orang lain berbuat maksiat. Dan wujudnya adalah manusia- manusia yang tidak hanya suka melanggar, tetapi juga mengajak orang lain untuk mengikutinya.barang kali ia kurang puas jika hanya melakukan dosa itu sendiri. Selain itu, jika semakin banyak orang yang ikut dalam mengamalkan kemaksiatannya, terkadang hal yang awalnya dikecam sebagai suatu keburukan justru dianggap suatu hal yang wajar. Seperti contohnya, ketika awal budaya barat pakaian barat masuk ke Indonesia. Orang-orang Indonesia mengecam hal tersebut, karena dianggap tidak sopan. Namun seiring berlalunya waktu dan pakaian itupun semakin gencar dipublikasikan oleh para artis tanah air, akhirnya pakain itupun diterima oleh masyarakat Indonesia. Bahkan hal yang lebih parahnya adalah hal tersebut dijadikan mode,sehingga orang yang tidak memakainya dianggap kuno dan kampungan.
3.  Dosa Saba’iyah yaitu dosa yang muncul dari sifat- sifat kebinatang buas yang ada dalam jiwa manusia. Permusuhan, kekejaman,amarah, dendam, kesewenangan dalam berbagai wujudnya. Para pembunuh,preman, psikopat merupakan penampakan manusianya. Muncul dari kekerasan hati dan watak, kesombongan serta minimnya rasa belas kasih menjadikan pemiliknya serigala- serigal buas yang mengerikan.
4.  Dosa bahimiyah yaitu dosa- dosa yang bersifat kebinatangan. Berkisar antara nafsu perut dan bawah perut. Nafsu perut menuntut  pemuasan terhadap mulutnya dengan berbagai macam cara tak peduli itu halal ataupun haram, seperti contoh; riba, mencuri, korupsi, jual- beli yang haram atau dengan cara yang haram dan mengambil harta orang lain dengan cara yang curang. Nafsu dibawah perut merupakan teman setia sesudah nafsu perut terpuaskan. Nafsu ini muncul dari lemahnya jiwa manusia dari sisi syahwat,kemalasan, dan ketidak pedulian pada kehormatan diri, kebodohan, dan minimnya rasa malu. Wujudnya adalah orang-orang malas yang gemar makan, para pezina, pengumbar aurat, koruptor, pemakan riba, dan manusia- manusia yang memilih makan yang haram dari pada yang halal hanya karena khawatir miskan, sengsara dan turun statusnya dimata orang.
Begitulah, meskipun masih ada dosa yang tidak disebutkan, tapi jika dirunut hulunya, dapat dipastikan hal itu muncul dari empat klasifikasi ini. Atau bisa juga merupakan kombinasi  dua atau bahkan keempatnya. Seseorang yang gila akan jabatan tidak sedikit yang terjebak dalam kasus suap,korupsi, pembunuhan rival dan skandal dengan wanita.

Nah sekarang, setelah kita mengatahui peta hati kita dari keempat klasifikasi tersebut dimanakah posisi kita sebenarnya. Kelemahan kita dapat kita diagnosis dari keburukan- keburukan yang sering kita lakukan. Mengetahui kelemahan sangat penting bagi yang ingin menjadi kuat. Karena mengetahui kelemahan diri adalah separuh dari kekuatan itu sendiri. Maka, mari kita bersama- sama berbenah diri, bermuhasabbah kemudian wujudkan hal itu dalam aksi yang nyata.

( dikutip dari bulletin FKAM )